Adam AS Dilahirkan?

Anda yang pernah membaca buku-buku karya Agus Mustofa pasti tahu, ia menganggap mustahil Rasulullah SAW bisa naik ke langit ketujuh dalam peristiwa Mi’raj, ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW pandai membaca dan menulis (tidak ummi), dan ia menegaskan bahwa sebenarnya Nabi Adam itu dilahirkan.
Kesimpulan Agus Mustofa yang menyiratkan pandangan anti mukjizat itu memang merupakan kelaziman dari trend pemikiran modernisme yang berkembang di Barat. Ciri khasnya, cara pandang itu mengedepankan rasionalisasi, cende­rung empiris, acap melakukan desakrali­sasi, bercorak non-metafisis, dan ber­orientasi pragmatis. Karenanya, tak aneh bila produk pemikiran seperti itu kerap men­dekonstruksi mukjizat, yang merupa­kan keistimewaan dari Allah SWT untuk para utusan-Nya.


Pembahasan yang menanggapi ke­mustahilan bagi Rasulullah SAW naik ke langit ketujuh saat Mi’raj maupun peng­ing­karan Agus Mustofa terhadap ke­ummi­an Nabi Muhammad SAW dapat dirujuk pada buku yang menjadi referensi tulisan ini. Sekarang, mari kita ikuti lagi sebagian ungkapan pemikiran yang dilontarkan Agus Mustofa, yaitu yang terkait dengan pandangannya bahwa ternyata Adam dilahirkan. “Dari pemba­hasan yang kita lakukan sepanjang ra­tusan halaman ini, saya kira Anda sudah bisa menebak kesimpulan akhirnya. Bahwa Adam adalah manusia yang dilahirkan. Kenapa? Karena, memang ia bukan manusia yang pertama yang diciptakan di muka bumi. Adam adalah al-insan. Ia adalah spesies al-basyar yang sudah berperadaban tinggi. Manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ternyata bukan Adam. Ia tidak pernah disebut secara eksplisit oleh Al-Quran. Allah selalu menyebut manusia pertama itu secara kolektif sebagai al-basyar.” (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 233).
Sebelum sampai pada kesimpulan itu, Agus Mustofa mencoba membuktikan sejumlah “fakta”. Di antaranya, lewat QS Al-A’raf: 11, yang menyebutkan firman Allah wa laqad khalanakum – sesungguh­nya Kami telah menciptakan kamu (Adam).
Di sini, Agus Mustofa mengoreksi dan menyalahkan terjemahan Al-Quran yang dirujuknya sendiri, karena dianggap tidak sesuai dengan pemikirannya. Sayang­nya, menurut Agus Mustofa, “…terjemah­an dalam bahasa Indonesia kata kum ini ditafsiri dengan Adam… Padahal kita tahu bahwa “kum” adalah bermakna jamak – kalian semua.” (Ternyata Adam Dilahirkan, hlm. 224).
Untuk kesekian kalinya Agus Mustofa menunjukkan ketidak-cakapannya dalam bidang tafsir Al-Quran, tata bahasa Arab, dan retorika Arab. Padahal begitu banyak ayat Al-Quran yang pengungkapannya meng­gunakan kata jamak untuk arti tung­gal, disebabkan adanya faidah, rahasia, dan maksud tersendiri di balik­nya, yang hanya bisa disingkap oleh orang yang memiliki pengetahuan akan hal itu dan rasa (dzauq) bahasa yang tinggi.
Silakan simak, di antaranya, QS Al-Furqan: 37 yang menyebut Nuh AS dengan rusul (rasul-rasul) atau QS An-Nisa’: 54 yang menghendaki kata an-nas (orang-orang) kepada Nabi Muhammad seorang.
Dengan pemahaman awam ala Agus Mustofa, barangkali penyebutan dalam ayat itu dianggap sebagai kesalahan. Padahal, bahasa dalam Al-Quran terlam­pau tinggi dan mulia untuk ditelaah secara awam seperti itu.
Singkat kata, tentang tafsiran ayat ini, Imam Qurthubi menafsirkan, “(Sesung­guhnya Kami telah menciptakan kamu) yakni Adam AS. Penyebutan Adam meng­gunakan kata jamak disebabkan Adam adalah moyang dari seluruh manusia.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/168).
Baca artikel selengkapnya di Majalah-Alkisah.Com

0 komentar :